Sabtu, 21 Juli 2012

Mikoriza

Mikoriza, jamur yang bersimbiosis secara mutualisme dengan perakaran tanaman.  Mikoriza diambil dari kata Mycos yang berarti jamur dan Ryzos yang berarti akar.  Keberadaan mikoriza di tanah sangat membantu tanaman dalam melakukan penyerapan air dan unsur hara terutama unsur phospat (P).
Penyebaran mikoriza di berbagai areal pertanaman di Indonesia sangat merata, mulai dari pertanaman daerah pantai sampai pertanaman di daerah pegunungan.  Namun Mokoriza berkembang cukup baik di daerah dengan salinitas tinggi yaitu didaerah pantai.
Penyebaran Mikoriza yang sangat luas merupakan salah satu sumberdaya alam yang perlu diberdayakan.  Karena  seiring dengan semakin luasnya lahan kritis akibat dari jenuhnya tanah akibat pemberian pupuk kimia serta dampak kekeringan keberadaan Mikoriza semakin menurun.  Sehingga perlu usaha – usaha pengembangan Mikoriza untuk mempertahankan kondisi tanah agar lahan kritis tidak semakin meluas.  Hal tersebut berdasarkan atas manfaat Mikoriza bagi tanaman.  Beberapa Manfaat Mikoriza bagi tanaman antara lain, memperluas area perakaran.  Area perakaran dapat diperluas dengan percabangan hifa atau miselium Mikoriza yang telah menginfeksi akar tanaman.
Hifa mikoriza dapat berperan sebagai kepanjangan akar tanaman.  Akar tanaman yang pendek dan serabut, atau akar-akar tanaman yang tidak dapat tumbuh dengan baik akibat sifat fisik dan kimia tanah yang rusak dapat terbantu perannya dalam menyerap air dan unsur hara.  Hifa Mikoriza yang telah menginfeksi akar tanaman dapat menjulur sampai 10 meter (Simanungkalit, 2009).  Dengan panjang hifa tersebut maka akar tanaman mampu menyerap unsur hara dan air pada area-area tanah yang tidak dapat terjangkau oleh akar.  Dengan mekanisme simbiosis mutualisme inilah tanaman-tanaman yang perakarannya bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan.

Teknologi Tepat Guna Pengembangan dan perbanyakan Mikoriza.  Salah satu usaha tersebut adalah mengupayakan perbanyakan massal yang dapat dilakukan secara mandiri oleh petani.  Langkah-langkah perbanyakan massal Mikoriza tingkat petani adalah sebagai berikut: Persiapan.
Persiapan alat dan bahan yang diperlukan.  Alat dan bahan yang diperlukan dalam perbanyakn massal Mikoriza adalah sebagai berikut: Bak plastik, ember plastik, cetok, hand sprayer, dandang sabluk, kompor.  Sedangkan bahan yang diperlukan adalah sebagai berikut: Starter Mikoriza, zeolit (dapat diganti dengan pasir laut atau sungai), benih Sorghum (dapat diganti dengan benih jagung).  Semua alat dan bahan tersebut diatas relatf mudah diperoleh.  Starter Mikoriza dapat diperoleh di beberapa tempat antara lain, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Serpong, Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta dan Institut Pertanian Bogor.
Produksi
Tahap produksi diawali dengan sterilisasi media.  Media perbanyakan Mikoriza yang berupa Zeolit atau pasir di sterilkan dengan menggunakan dandang sabluk.  Panaskan media selama 1 (satu) sampai 2 (dua) jam, tujuan dari kegiatan ini adalah membunuh mikroorganisme yang hidup pada media perbanyakan.  Dengan mati dan berkurangnya mikroorganisme tersebut maka akan mengurangi tingkat kompetisi antara Mikoriza dengan mikroorganisme lain.  Selain itu tujuan sterilisasi media adalah agar tanaman inang (sorghum) tidak terserang hama dan penyakit.
Selanjutnya, media yang telah steril dimasukkan kedalam bak plastik sebanyak ¾ dari volume bak palstik.  Tanam benih sorgum pada media yang telah disiapkan.  Benih yang akan ditanam sebaiknya dikecambahkan terlebih dahulu.  Benih yang telah berkecambah dapat meningkatkan prosentase benih tersebut dapat tumbuh dengan baik, karena media tanam yang digunakan miskin akan unsur hara.
Cara menanam benih sorgum pada media zeolit adalah sebagai berikut:
  1. Buat lubang tanam pada media zeolit.  Lubang tanam sebaiknya tidak terlalu dalam, kira-kira 2-3 cm dari permukaan media.
  2. Letakkan starter Mikoriza sebanyak 0,5-1 gram pada lubang tanam tersebut.  Starter Mikoriza yang digunakan minimal mempunyai populasi spora 10-20 spora Mikoriza.
  3. Tanam benig sorghum yang telah berkecambahdenga posisi tunas menghadap ke atas lalu tutup dengan zeolit.
Inkubasi dan Perawatan
Inkubasi dan perawatan dalam usaha pengembangan dan produksi massal Mikoriza skala petani sangat mudah.  Inkubasi adalah proses pengontrolan dan pengamatan pertumbuhan tanaman inang yang diletakkan di suatau tempat tertentu.  Inkubasi tidak memerlukan ruang atau tempat khusus.  Cukup letakkan pada lokasi yang cukup sinar matahari kemudian lakukan perawatan tanaman dengan penyiraman dan pemupukan.  Namun penyiraman jangan terlau sering dilakukan.  Cukup dengan menjaga kelembaban permukaan media zeolit .  Kemudian pemupukan dilakukan secukupnya,  dengan pupuk yang mengandung nilai P rendah.  Perawatan benih yang telah tumbuh juga meliputi pengamatan hama dan penyakit.  Segera cabut tanaman-tanaman yang terserang hama dan penyakit atau tumbuh abnormal.  Inkubasi dilakukan selama 2 (dua) bulan.
Stressing
Stressing adalah usaha menghambat atau menekan pertumbuhan tanaman inang dengan kondisi tertentu dengan tujuan agar Mikoriza yang bersimbiosis dengan akar tanaman juga mengalami tekanan.  Sehingga dalam kondisi tertekan Mikoriza akan membentuk struktur tahan yaitu spora.  Dalam bentuk spora inilah Mikoriza dapat dipanen.  Bentuk-bentuk stressing yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.
  1. Tanpa penyiraman.  Setelah selama 2 (dua) bulan tanaman inang dirawat dan diinkubasikan makam pada bulan ketigalakukan stressing dengan cara tidak disiram selama 1 (satu) bulan.  Dalam kondisi tanpa penyiraman secara otomatis akar akan tanaman berusaha keras untuk mencari sumber air. Pada saat inilah  simbiosis antara akar tanaman denagn Mikoriza berjalan dengan optimal.  Hifa-hifa Mikoriza akan memanjang untuk membantu akar tanaman mencari sumber air.
  2. Dengan pemaparan sinar matahari.  Setelah perlakuan tanpa penyiraman, kombinasikan dengan perlakukan pemparan tanaman inang dibawah sinar matahari.  Pemaparan sinar matahari ini akan semakin menekan kondisi fisik tanaman inang sehingga diharapkan dengan semakin tertekan kondisi fisiknya akan mempengaruhi juga kondisi Mikoriza sehingga dalam kondisi yang tidak menguntungkan tersebut Mikoriza akan membentuk spora untuk mempertahankan hidupnya.
  3. 3. ToppingTopping adalah memotong tajuk tanaman inang.  Potong tajuk tanaman inang dan sisakan batang bawahnya kurang lebih tinggal ¾ nya saja.  Dalam kondisi seperti ini tanaman inang dan Mikoriza mengalami kondisi tekanan yang sanagt tinggi.  Tanaman inang akan mati, sedangkan Mikoriza akan berusaha untuk mempertahankan diri.  Dengan teori bahwa semua mikroorganisme jika mengalami kondisi yang tidak menguntungkan maka akan membentuk struktur tahan.  Sama halnya dengan Mikoriza yang juga merupakan mikroorgnisme.  Hifa-hifa Mikoriza akan mengerut dan membentuk spora.  Dalam bentuk spora inilah Mikoriza dapat di panen
Pemanenan
Pemanenan dilakukan setelah tanaman inang mengalami strssing atau kurang lebih 3 (tiga) bulan.  Cara pemanenan Mikoriza adalah sebagai berikut:
  1. Bongkar tanaman inang yang telah di stressing lalu campur dan aduk media tanam yang berupa zeolit.
  2. Potong akar tanamn inang kecil-kecil dengan menggunakan gunting.
  3. Campurkan potongan akar tanaman inang dengan zeolit
  4. Kemas mikoriza yang menggunakan bahan pembawa zeolit dengan menggunakan plastik.
  5. Mikoriza siap untuk diaplikasikan
Jika ingin mengetahui kualitas Mikoriza hasil perbanyakan massal yang telah dilakukan maka harus dilakukan pengamatan mikroskopik dengan menggunakan alat bantu mikroskop di laboratorium.  Mikoriza dapat dikatakan berkualitas jika jumlah spora Mikoriza tiap gram medianya mengandung 10-20 spora.  Mikoriza dengan bahan pembawa zeolit dapat bertahan sampai 1 tahun.  Dengan masa penyimpanan yang semakin lama maka akan terjadi penurunan kualitas.  Sehingga setelah dipanen Mikoriza sebaiknya segera untuk diaplikasikan sebagai pupuk hayati.
Pengembangan dan perbanyakan massal mikoriza ditingkat petani akan semakin mudah dengan teknologi diatas.  Dengan teknologi tepat guna, dengan menggunakan bahandan alat yang sederhana petani mampu memproduksi mikoriza secara mandiri.  Dengan kemampuan memproduksi secara mandiri diharapkan petani Indonesia mampu mengatasi lahan-lahan kritis.  Dengan tertanggulanginya lahan kritis di Indonesia maka Indonesia akan mampu berswasembada. Hidup petani Indonesia, (ayok)

Sumber :  http://p2aph.wordpress.com/2009/12/03/mikoriza-petani-juga-bisa-memproduksinya/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar